Rupiah 12 Ribu/US$, Alarm Tanda Bahaya Ekonomi Indonesia?

Jakarta : Kekhawatiran investor dan pelaku usaha akan tergelicirnya nilai tukar rupiah akhirnya terjawab. Data perdagangan Valuta Asing (Valas) Bloomberg mencatat kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (28/11/2013) bertengger di level 12.018 atau ambruk 132 poin (1,11%) dibandingkan penutupan sehari sebelumnya. 

Lonceng tanda bahaya pun makin nyaring terdengar. Pelemahan kurs rupiah melewati batas psikologis barunya kali ini bakal memicu kecemasan pelaku pasar.

"Sebenarnya kalau dibilang alarm tanda bahaya, sudah bunyi dari lama. Sejak Agustus," ujar Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo kepada Liputan6.com.

Satrio berharap tembusnya rupiah ke level 12 ribu per dolar AS ini akan menyadarkan pemerintah untuk secepatnya membuat obat mujarab yang bisa kembali menstabilkan rupiah. "Tapi apakah pelemahan rupiah ini akan membangunkan pemerintah, itu yg menjadi pertanyaan," tanyanya.

Berbagai peringatan akan adanya pelemahan rupiah sudah banyak didengungkan pengamat dan pelaku pasar. Mengutip laporan Bloomberg, Ahli Strategi darii Barclays, London, Guillermo Felices mengungkapkan prospek pertumbuhan ekonomi negara berkembang termasuk Indonesia tengah menghadapi dua tekanan besar berupa prediksi penghentian program stimulus (Tapering off the Fed) dan kekuatan siklus bisnis global.

"Sementara di pasar valuta asing, kerangka tersebut akan menjadi salah satu pengecualian,"

Menghadapi rencana penarikan program stimulus tersebut, para investor menjadi kian diskriminatif setiap harinya. Ketakutannya membuat semakin banyak dana yang ditarik keluar dari dalam negara berkembang. Meski demikian, kinerja mata uang di sejumlah negara berkembang akan bervariasi.

"Kami melihat pasar mata uang negara berkembang akan terpecah menjadi dua. Satu diantaranya adalah negara-negara dengan defisit eksternal, inflasi serta kekhawatiran atas potensi penarikan dana keluar dalam jumlah besar, yang membuatnya harus berjuang keras untuk menarik masuk dana investasi asing," ungkap ahli strategi Morgan Stanley, James Lord di London.

Dalam kondisi seperti itu, real, rupee, rupiah dan lira akan menjadi mata uang negara berkembang yang mengalami pelemahan terbesar tahun ini. Tengok saja bagaimana nilai tukar rupiah melemah parah sepanjang tahun ini karena kekhawatiran akan membengkaknya defisit transaksi berjalan dan perdagangan.

Untuk mengetahui sejauh mana penurunnya, berikut penelusuran Liputan6.com terhadap empat mata uang negara berkembang dengan pelemahan terparah sepanjang 2013:

1. Rupiah (Indonesia):

Posisi akhir 2012: 9.793 per dolar AS
Penutupan perdagangan 28 November 2013: 12.018 per dolar AS
Tingkat pelemahan sepanjang 2013: 22,7%

2. Lira (Turki)

Posisi akhir 2012: 1,78 per dolar AS
Penutupan perdagangan 28 November 2013: 2,02 per dolar AS*)
Tingkat pelemahan sepanjang 2013: 13,4%

*) Data perdagangan hingga pukul 5.49 EST

3. Real (Brasil)

Posisi akhir 2012: 2,05 per dolar AS
Penutupan perdagangan 28 November 2013: 2,33 per dolar AS
Tingkat pelemahan: 13,6%

4. Rupee (India)

Posisi akhir 2012: 54,99 per dolar AS
Penutupan perdagangan 28 November 2013: 62,3 per dolar AS
Tingkat pelemahan: 13,3%
(Shd/Sis)

Sumber: Liputan6.com
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar